Pages

Sabtu, 24 September 2011

Love Your Kidneys!

Bismillahirrahmanirrahim..


LOVE. YOUR. KIDNEYS.
Just yesterday, I found 2 patients died because of chronic kidney disease (CKD), in ONE day. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.. CKD is such a complicated disease that can involve all organs, from head to toe, and lead to death instantly.
Patient usually shows no symptoms until the severe stage. Because you know, our kidneys love us just too much that they will try hard to compensate until 3/4 part of them broke down.
So starting from now, would you please love them back? Simply by drinking plenty of water (2L per day) and observe your urine. If your urine is clear, you're good. But if it is yellowish brown, please please please drink more. Ah, and don't drink any energy drink, coffee, or tea too often because mineral water is your kidneys' BFF.



Hypertension and diabetes mellitus are two biggest enemy for your kidneys. Detect them early and put your shield on! What shield you ask? Lifestyle it is. Healthy diet, no smoking, regular exercise, and hakuna matata! Please tell this to your beloved ones.
Love your kidneys and be healthy! :)

“Take advantage of five matters before five other matters:
your youth, before you become old;
and your health, before you fall sick;
and your richness, before you become poor;
and your free time before you become busy;
and your life, before your death.”
(HR. Ibnu Abbas)

Senin, 05 September 2011

fate?

Bismillahirrahmanirrahim..

Hari ini beberapa pengumuman bikin saya joget gila terdiam. Hari pertama masuk stase interna (penyakit dalam), saya harus nerima kenyataan kalo lagi-lagi saya di tempatin di Banyumas, Jawa Tengah. Yang biasanya interna di sana cuma 4 minggu, kelompok saya dapet 6 minggu. Kejadiannya mirip waktu obsgyn, dimana biasanya disana cuma 4 minggu, eh kelompok saya dapet 10 minggu! 2,5 kali lipat, hell yeah.

Akhirnya, kelompok saya jadi kelompok interna pertama sejak Indonesia merdeka (hiperbolis tentu saja) yang ditempatin 6 minggu. Dan kelompok interna pertama sepanjang sejarah yang ga dapet jatah jagum (jaga umum). Kalo kalimat kedua, saya yakin fakta haha.. Saya mau jagum. Jagum itu artinya jaga bangsal penyakit dalam di Sardjito, 7 x 24 jam nonstop. Kata orang, jagum itu 'jiwa'nya interna. Kalo belom jagum belom interna, endesbre endesbre.. Ah. :(

Saya efektif ditempatin di Banyumas dari 12 Agustus-22 Oktober. Padahal 19-22 Oktober saya ada acara di Jogja. Bukan, bukan lamaran atau nikah atau yang sejenisnya. Hahaha. Ceritanya, (alhamdulillah) saya kepilih untuk bawain 1 oral presentation di The 6th Asia Pacific Conference on Reproductive and Sexual Health and Rights. Awalnya ragu karena conference fee-nya 3 jeti bok. Terus saya apply semacam scholarship, dan pengumumannya baru saya baca tadi: saya insyaAllah bisa dapet scholarshipnya!! Alhamdulillah kan.. Saya udah ngimpi dari dulu buat ikut konferensi internasional.. Saya pernah apply dua kali sebelum ini, cuma baru rejeki sekarang.. Tapi tanggalnya itu lho.

Ya udah, ijin aja nin koasnya bentar. Gitu aja kok repot.

Iya. InsyaAllah. Pengumumannya dateng makblek satu hari, jadi rada rebek gini eke mikirnya, haha. Doain saya ya temen2.. Semoga ga dipersulit perizinannya, saya bisa ngasih presentasi yang bagus, dan dunia per-koas-an makin mantab jaya! Buat yang terakhir jangan sampe keseleo bacanya ya :p

Semoga urusan2 kalian juga lancar dan berkah yaa. All the best for us!


"Once all the struggle is grasped, miracles are possible."
(Mao Tse-Tung)



Let's grasp some struggle! Bismillah :)



Minggu, 21 Agustus 2011

ibuku.

Bismillahirrahmanirrahim.

Kawan, akan ku ceritakan padamu tentang ibuku.

Kenangan masa kecil yang ku ingat tentang ibuku tidak begitu banyak. Karena sebenarnya, kenangan masa kecilku tentang hal apapun memang tidak bersisa banyak. Salah satu yang aku ingat adalah sepenggal momen saat usiaku belum genap 4 tahun. Aku berada di kamar orang tuaku kala itu. Aku baru saja belajar menulis huruf. Apa kau pernah tahu buku belajar menulis huruf dengan cara mengikuti garis titik titik? Satu halaman satu huruf. Ku ikuti cetakan huruf itu dengan pensil, berkali-kali. Oh bila kau bertanya dimana ibuku, dia sedang mandi di dalam, sambil terus berbicara padaku. Dia baru saja pulang dari kerja. Di perjalanan pulang itulah ia membeli buku belajar menulis huruf, untukku. Untukku yang belum genap 4 tahun. Aku sangat bahagia kala itu, sungguh.

Dari rahimnya kami lahir, lima perempuan dan satu laki-laki. Aku adalah anak ketiga. Kata ibuku, dibanding yang lain, proses melahirkanku yang paling berat, susah, dan sakit. Dan ku kira, dibanding yang lain pula, proses membesarkanku jugalah yang paling berat, susah, dan sakit.

Ibuku wanita karir, kawan. Dia bekerja sebagai dosen di sebuah universitas negeri. Ibuku mengecap pendidikan sampai S2 saja. Padahal, sebagai dosen, dia sering ditawari untuk melanjutkan S3, bahkan di luar negeri. Ibu selalu menolak. Tidak pintar bahasa Inggris, katanya. Tapi sebenarnya, ia hanya tak bisa meninggalkan anak-anaknya lebih lagi.

Ibuku sering pulang malam. Kadang-kadang, sebelum ia pulang, kami sudah tertidur. Kelelahan karena sekolah kami yang sampai sore. Namun terkadang, bila ibuku terlambat pulang, aku tak bisa tidur. Aku sangat takut ibuku mengalami kecelakaan di perjalanan pulang malam itu, kau tahu. Takut tak bisa melihatnya lagi, hanya bisa menangis. Tapi begitu ku dengar suara mobilnya, hatiku tentram sudah.

Begitu ibuku pulang dari mengajar malam, dia akan menuju kamar anak-anaknya sebelum apapun. Sekedar untuk melihat kami, menepok nyamuk, mengelus kami, dan mematikan lampu. Aku suka pura-pura tidur. Aku suka bunyi tepokan nyamuk ibuku.

Ibuku sangat senang dengan kisah perjalanan nabi. Dia cinta jazirah arab dengan segala pesonanya dan selalu berdecak kagum ketika ada siaran mengenai hal seperti itu di televisi. Ibuku juga senang bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris dengan kami. Untuk belajar, katanya. Tapi tentu saja percakapan itu seringkali malah kami timpali dengan bahasa Indonesia.

M: Do you want to go, my dear?
A: Iya ma
M: Ih, kenapa sih anak mama ditanya pake bahasa inggris jawabnya ‘iya’ semua *gemes*
A: Hahahaha


Ibuku tidak pernah belajar di sekolah Islam. Tapi dia menyekolahkan kami semua di sekolah Islam, walaupun biayanya tergolong cukup mahal. Ibuku bilang, dengan itu maka tunailah kewajibannya mengenalkan Islam pada kami.

Ibuku tidak pernah menyuruh kami untuk jadi profesor, presiden, insinyur, ataupun dokter. Impiannya satu; anak-anaknya menjadi anak yang sholeh. Tidak pernah ia menyuruh kami belajar gila-gilaan. Jika kami meraih ranking di kelas pun tidak ada hadiah istimewa darinya. Ia selalu berkata, anin belajar nanti anin jadi pinter, ranking cuma bonus aja.. Tapi lihat, betapa bangganya ia ketika anaknya menang di lomba ngaji se-komplek waktu TK. Cerita itu diulang-ulangnya.. Waktu anin TK anin udah apal sampe surat ini... Kawan, sungguh aku malu dengan diriku saat TK dulu.

Sampai sekarang, ketika sedang berdua denganku, pesan ibuku tetap sama; jadi anak yang sholeh ya nin... Namun dengan semua lalai shalatku dan salah yang kerap kulakukan, aku secara tak sadar telah merobek-robek impiannya. Pesannya yang lain kepadaku adalah tentang hal itu; kematian. Nanti kalau mama meninggal, mama mau..... Nanti kalau mama meninggal, anin ini ya....

M: Nin, nanti kalau mama meninggal, anin urus semuanya sesuai syariat ya.
A: .... Syariatnya kayak gimana ma?
M: Nah itu yang anin harus belajar.
Tertawa, kemudian hening. Ya, aku menolak membayangkan saat-saat kematian orang yang paling ku cintai.


Ibuku sudah tua, kawan. Sudah lewat setengah abad umurnya. Ibuku dulu sangat cantik, muda, dan terlihat berseri-seri. Setidaknya itulah yang ku lihat di foto KTPnya. Namun sekarang kulitnya sudah banyak kerutan, rambutnya mulai rontok dan beruban, raganya pun tak lagi sekuat dan selincah dulu. Waktu telah memakan fisik ibuku. Aku dan saudara-saudaraku berperan paling besar di dalamnya.

Ibuku bagai matahari di rumah kami. Dialah poros perputaran. Dialah sumber segala. Dari matematika dasar, tawar-menawar di pasar, sampai menu masakan harian.


Ibuku adalah ibu nomer satu di dunia.


Dialah alasanku untuk tidak pernah mempertanyakan mengapa syurga ada di bawah telapak kaki Ibu.