Pages

Senin, 23 Juni 2008

500.

Bismillahirrahmanirrahiim.

Hari Rabu lalu, 18 Juni 2008, saya field trip ke puskesmas di Kulon Progo. Puskesmas Temon I, tepatnya (pronounciation: temon (e-nya seperti bilang ‘teman’), red). Berjejalan 12 orang (+pemandu dan supir) dalam mobil APV. Ditemani lagu lawas favorit sang supir dari tape mobil, yang di setengah perjalanan terakhir disertai lagu India dari HP teman saya (tak lupa dengan keterangan adegan apa yang terjadi saat bait demi bait lagu itu dinyanyikan). Hahaha.. Dasar dodol.

Tapi ada hal yang lebih menarik dari itu ternyata.

Sampai saat ini ‘tarif’ puskesmas Temon I masih Rp500, belum berubah mengikuti Perda menjadi Rp3.000. Jadi pasien hanya membayar Rp500,- (terbilang: lima ratus rupiah) dan kemudian sudah bisa mendapatkan pelayanan (umum, gigi, ibu-anak, atau yang lain), termasuk obat. Ya, 500. Untuk semua pasien: umum (mampu), ASKES, maupun ASKESKIN. 500. Gope. Harga 1 gorengan.

Ketika saya menceritakan fenomena ini di kelompok tutorial saya, semua tercengang (cieeh). Kemudian sang tutor yang spesialis penyakit dalam konsultan endokrin itu tersenyum, tertawa sebentar dan berkata

Tutor: Makanya kalian ga usah bangga jadi dokter.

Hati semua: Lho kenapa?

Tutor: Pernah ke mall?

Semua: Ya pernah laa..

Hati saya: Ini kenapa jadi ngomongin mall?

Tutor: Kalo ke WC bayar berapa?

Teman 1: Gak bayar ah dok

Teman 2: 1000.

Tutor: Nah itu dia. Tukang jaga WC aja yang ga perlu sekolah tinggi2 dibayar lebih banyak daripada puskesmas.. Tapi kita, yang udah sekolah susah-susah, lama, mahal lagi bayarnya,, dibayarnya cuma segitu. Malah tukang jaga WC, tukang parkir dibayarnya lebih banyak.

Maka kami pun mulai mengerti apa maksud pertanyaan mall-mall-an tadi.

Teman 1: Ya ampun iya juga ya, kemaren aku markir di Amplas ampe 8000.

Teman 2: Aku malah 10.000.

Yah, mulai kaga nyambung dah bocah-bocah. Dan beliau pun melanjutkan..

Tutor: Makanya jangan bangga jadi dokter. Kita tuh cuma pelayan, udah dihargain segitu, pasien komplainnya banyak. Coba kalo di rumah sakit swasta yang besar. Sekali masuk 100-200 ribu, pasti pasiennya lebih nurut. Kalo 500 mah dianggepnya apa. Belum nanti kalo salah.. Pengacara udah pada nunggu tuh di luar.

Hati beberapa anak: Ya ngga papa no, kita kan emang tugasnya ngebantu orang.

Seakan bisa membaca hati kami, beliau berkata lagi.

Tutor: Ga masalah kalau nolong, tapi pikir deh. Kalo 500 itu tandanya kita dihargain ga? Wong WC sama parkir lebih mahal bayarnya.

Begitulah kira-kira… Dan saya pun tertegun (cieeeh). Jadi inikah yang teman-teman saya perdebatkan di forum tentang idealis vs. realistis? Ataukah ini hal yang berbeda?

Sabtu, 08 Maret 2008

R:-3 L:-2.25

Bismillahirrahmanirrahim.

In the name of Allah; the most gracious, the most merciful.

Ya. R:-3, L:-2.25..

Poin minus baru saya, dengan standard deviasi 0.5.. Jelas saya tak percaya. Kacamata saya sekarang hanya R:-0.75 L:-1.00. Sebandel-bandelnya saya yang sangat jarang memakainya, jarang pula minum jus wortel, dan seringkali membaca buku sambil tiduran, tapi tetap saja. 3? 2.25? No way.

Padahal pemeriksaan itu saya lakukan di MedExpo, salah satu acara rangkaian Dies Natalis FK UGM dan RSUP dr.Sardjito, dengan alat canggih luar biasa (lebai), tidak seperti di optik-optik biasa yang memeriksa minus dengan ganti-ganti lensa.. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tapi yasudahlah.. Misteri itu kita lupakan saja. Toh dengan kacamata yang sekarang saya masih bisa membaca slide lecture dengan jelas.. Teknologi bisa juga salah, bukan? Wahaha. Apalagi, kemarin waktu tes gula darah juga hasilnya alhamdulillah masih normal. Tes tekanan bola mata juga normal... Sayang, saya tidak sempat coba tes tingkat ke-stress-an

Tahun depan, datanglah ke MedExpo FK UGM! Walaupun slogannya jijay membosankan "pameran ilmiah kedokteran" tapi ternyata banyak hal gratis yang bisa kita dapatkan di sana... hehe

Selasa, 04 Maret 2008

Mengapa Saya Harus Bertahan

Bismillahirrahmaanirrahim.

In the name of Allah; the most gracious, the most merciful.

Mengapa saya harus bertahan.

Banyak alasan bagi seorang pemalas yang pragmatis seperti saya untuk keluar dari sini, dari FK. Sungguh begitu banyak. Tapi mencatatnya, hanya akan menambah derajat kemalasan saya. Mencatatnya, hanya akan semakin mendorong saya keluar, jatuh terperosok dalam.

Karenanya, saya akan mencoba mencatat alasan mengapa saya harus bertahan di sini, di FK.

Maka, mengapa saya harus bertahan?

1. Karena inilah yang Allah pilihkan untuk saya.

Karena masuk FK UGM lewat Ujian Tulis adalah yang dipilihkan Allah untuk saya. Pilihan, yang pasti terbaik. Pasti terbaik. Saya teringat, sms balasan itu. Sms itu hadir, setelah saya shalat, berdoa; jelas-jelas meminta agar Allah memberi, seperti orang yang tidak tau diri; tapi di akhir doa, tetap memasrahkan semua pada-Nya. Karena saya yakin, toh bila tak diterimapun, orangtua saya tetap bahagia. Karena saya juga sudah pernah mengalami penolakan sebelumnya, dua kali malah. Pun saya tak diterima, pasti saya tak sendirian. Jika pun saya tak diterima, masih ada SPMB. Dan jutaan tameng kecewa hasil logika manusia lainnya.

Saya ingat, kala itu saya tidak punya pulsa. Maka saya sms lewat hp mama. Awalnya saya berharap, balasan itu akan lama datangnya, karena jaringan sibuk. Tapi ternyata tidak. Balasan itu datang begitu cepat. Balasan itu berbunyi “Selamat, 1700500135, ANINDYA KZ, diterima di Pendidikan Dokter UGM, Regstr Tgl 28/6/2007 di GrhaSabhaPramana UGM . SPMA:UM SPMA [No_Pest].”

Betapa bahagia dan bersyukurnya saya kala itu. Tapi syukur itu, dinodai euphoria-euphoria yang tak seharusnya ada. Bahwa akhirnya saya bisa ngurusin film angkatan, bahwa saya tidak perlu lagi les, bahwa saya sudah ‘aman’, bahwa nama saya akan digemakan di perpisahan, dan bahwa-bahwa lainnya. Picik, dangkal, tak bermutu.

Ketika hari pengumuman SPMB, dag-dig-dugnya saya malah menggila. Tidak, saya tidak ikut SPMB. Tapi begitu banyak teman-teman saya yang ikut. Yang berharap-harap cemas hari itu, atas semua usaha giat mereka, atas doa-doa di sepertiga malam terakhir mereka, atas harapan dan cita mereka. Dan hasilnya pun sampai ke saya.

Begitu banyak syukur, tapi juga ada heran, tanya, dan sedih karena jawaban ‘belum’ dari-Nya kepada beberapa teman baik saya. Di balik heran, tanya, dan sedih itu, menyeruak syukur tanpa euphoria, yang seharusnya tercipta dua bulan yang lalu. Ya, betapa hati ini harus bersyukur. Karena Dia, telah memberikan ketenangan pada saya, juga mama, sebelum semuanya. Sebelum SPMB. Karena Dia, telah percaya pada saya, untuk dapat FK, untuk jadi dokter.

Bukan saya senang atas sedihnya teman-teman saya. Bukan. Sungguh. Saya sedih atas teman-teman saya yang belum dapat SPMB. Karena saya tau usaha-usaha mereka, saya tau kuat dan jelasnya cita mereka, saya tau betapa berkualitasnya mereka. Sungguh saya sedih dan bertanya-tanya, “mengapa ya Allah?” ..Tapi pantaskah? Pantaskah saya sedih dan bertanya-tanya atas keputusan dari-Nya? Seakan tidak ikhlas akan keputusan-Nya, yang pasti selalu terbaik. Selalu terbaik. Karena Dia yang menjadikan saya dan teman-teman saya ada, membuat kami memiliki cita-cita, mengizinkan kami mendapat sesuap ilmu-Nya yang luas lagi banyak.

Jadi, mengapa saya harus bertahan? Hehe.. balik lagi ke sana. Ternyata satu-satunya alasan adalah karena inilah yang Allah pilihkan untuk saya, dan saya (harus) sangat bersyukur dengan pilihan itu. Tiada alasan yang lain. Karena toh, mama saya tidak masalah (baca:menyuruh) saya ikut SPMB lagi tahun ini.. Personal interest saya pun sepertinya masih bisa diatur untuk mencintai bidang lain (yaaah.. mungkin tidak untuk kalkulus). Tapi agaknya, saya memang harus bertahan di sini. Karena sungguh, laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Dan Allah gak pernah boong.

Buat temen-temen yang akan USM ITB, UM UGM, UM-UM yang lain, ataupun SPMB tahun ini.. Semoga Allah memberi kelapangan dan kekuatan, kemudahan yang banyak, juga kesehatan yang melindungi. Semoga Allah membarakan semangat kalian, merahmati usaha kalian, dan memeluk mimpi serta cita kalian. Dan menjadi apapun kita nanti, semoga Allah memberkahi langkah-langkah kita, menuju kebaikan. Amiin…