Pages

Jumat, 04 Maret 2011

Tuhan Sembilan Senti

Tuhan Sembilan Senti - Taufik Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.

Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.


...

Syair Taufik Ismail. Beautiful words he has there.. Pertama kali baca langsung jatuh cinta. Hehehe

Syair ini sempet saya bacain keras2 di depan 1 teman penelitian saya yg perokok. Kami sering bikin skripsi bareng, ber-4, sampe larut bahkan. Karena dia easy going, saya juga cuek bebek ngusir2 dia kalo pas ngerokok (padahal ya itu rumahnyaa! wakakaka), batuk2 lebay, n puncaknya ya bacain syair ini. Huehueue iseng deh :D

Responnya?

"Ya karena dia berhala nin, jadi harus dibakar" *nada santai-nyalain korek-kepulin asep-ngekek2*

Hahahaha emang dasar..

Lucunya, pas saya bacain bagian: "4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?", dia langsung jawab: "ya diisep lah".. Padahal lanjutan syairnya: "Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz." Huahauhauha puas banget bacain bagian itu, sumpah >:)


Haha ya gitu deh ah. So people, better not to start an addiction :D


related post: stopmerokok

Kamis, 03 Februari 2011

cluster headache

Cluster headache is far less common than migraine headache or tension headache. Cluster headaches begin far more dramatically, however, and remain quite unique in their course over time.

As the name suggests, the cluster headache exhibits a clustering of painful attacks over a period of many weeks. The pain of a cluster headache peaks in about 5 minutes and may last for an hour. Someone with a cluster headache may get several headaches a day for weeks at a time - perhaps months - usually interrupted by a pain-free period of variable length.

In contrast to people with migraine headache, perhaps 5-8 times as many men as women have cluster headache. Most people get their first cluster headache at age 25 years, although they may experience their first attacks in their teens to early 50s.

You can get 2 types of cluster headache:

  • Episodic: This type is more common. You may have 2 or 3 headaches a day for about 2 months and not experience another headache for a year. The pattern then will repeat itself.

  • Chronic: The chronic type behaves similarly but, unfortunately, you get no period of untreated sustained relief

The pain of cluster headache is its defining and most dramatic feature. This pain comes on without warning (no forewarning symptoms such as the aura in classic migraine) and may begin as a burning sensation on the side of your nose or deep in your eye.

The pain peaks in just a few minutes. People describe the feeling as having an ice pick driven through your eye. They use words such as "excruciating," "explosive," and "deep." This stabbing eye pain carries with it a rapid electrical-shocklike element, which may last for a few seconds, and a deeper element that continues for a half-hour or longer. The pain almost always begins in your eye and always on 1 side of your face. Interestingly, for most people the pain stays on the same side of the face from cluster to cluster, while in a small minority the pain switches to the opposite side during the next cluster.

In addition to its one-sidedness, other characteristics separate cluster headaches from other headaches.

  • The headaches commonly come on just after you go to sleep : checked. saya tidur di pesawat, kebangun gara2 sakitt banget kepala

  • Often the eye on your affected side will tear : checked. keluar air mata sebelah kiri doang.

  • Your eyelid on the affected side will droop: ga tau, ga ngaca..

  • You will experience one-sided nasal stuffiness and runny nose : checked. idung kiri langsung keluar ingus, sampe saya mesti meper2 ke baju krn ga bawa tissue *jorok hahaha*

  • Cluster headaches have seasonal variations. Most attacks occur in January and July, where the days are in turn the shortest and longest : it's feb 2nd. yet it's indonesia, man.

source: http://www.emedicinehealth.com/cluster_headache/article_em.htm


saya cuma berharap ini bukan cluster headache. semoga ini cuma sakit manja biasa.. ya, saya selalu sakit waktu pulang ke depok. ya demam, ya batuk-pilek, ya pegel2, pokoknya sakit2 yg buat manja :p

semoga bukan cluster.. semoga. doain ya semuaa! semoga kalian sehat2 selalu :')

random

saya ada di depok sekarang, rencana sampe senin subuh. ada acara keluarga, seneng, gembira riang.

penelitian masih belum selesai. rencana maju sidang tanggal 18 februari. duh aduh. skip aja ya soal ini >:)

saya curiga saya kena cluster headache. peak pertama waktu di pesawat ke jakarta semalem. rasanya sakittt, cuma sebelah, deket mata. waktu lagi sakitnya jadi banget itu mata kerasa kyk ditarik2, airmata keluar tapi cuma dari 1 mata doang :(( tadi udah coba minum paracetamol, tapi habis itu saya tidur 6 jam, jadi ga ketauan efeknya. bangun2 udah sakit lagi.. T__T semoga bukan cluster headache beneran.. sakit bo.

account twitter saya sudah deactivated. random banget. cuma saya rasa micro blogging saya yang 1 itu isinya galau2 semua hahaha jadi yaudah deh.. deactivate aja gitu. sekarang kangen ngetweet, jdeeeng! mau cerita n nanya2 cluster headache jd ga bisa. kalo di fb kan ga bisa eh ga mau update status sering2.. haha ntar kalah dong eke sm anak2 labil itu :D

hah.. how's life going out there ya? kayaknya idup saya muter2 di skripsi aja beberapa minggu ini. hahaha semoga cepet selesee, AMIN.

bismillahirrahmanirrahiiim